Ini adalah kisah nyata yang Penulis dapatkan dari salah satu dari 29 teman sekelasnya, sebut saja Akiang. Kali ini, Saya ingin menceritakan seorang wanita yang berusia 16 tahun namun berwajah tua, sebut saja Dora (nama asli -_-) Dia kini kelas 11 SMA, Dia memiliki bobot tubuh yang cukup membuat bahu retak bila mengangkatnya dengan paras yang unik dengan bentuk wajah yang abstrak beserta susunan dan bentuk gigi yang tidak rapi. Dia acap kali diejek teman sekelas, bahkan seangkatan, bahkan kakak kelas, bahkan seantero SMA. Dia mirip 'Mak Nyonya' dan sering berbuat hal-hal yang tanpa Ia sadari CUKUP konyol. Baiklah, kami akan menceritakan salah satu perbuatannya, mari kita kembali ke inti cerita.
Akiang menceritakan hal ini sekitar 30 menit lamanya, karena tak kuasa menahan tawa pada saat upacara dan mata guru yang melirik-lirik di lapangan hingga kelas berlangsung tiada henti, maka cerita cukup sulit untuk diceritakan *masih tertawa*. Oke.
Pada suatu sore hari, Akiang bersama teman-temannya, yang mana teman penulis juga sedang berbicara di perjalanan pulang mengenai makanan yang enak untuk disantap dan lokasi yang asyik untuk ditongkrongi. Di jalan tanpa sengaja, Dora, sang wanita berusia 16 tahun bermuka tua itu melambaikan tangannya tiada henti ke samping kaca pengemudi, (baca: sambil motong jalan dengan kecepatan orang yang sedang tidak ingin memotong jalan) lebih tepatnya kepada Akiang yang sedang menyetir mobilnya. Otomatis Akiang bersama teman-teman Saya terkejut dengan penampakkan Dora yang hadir di sisi kanan mereka dengan sangat ekspresif dan ke-ekspresif-an-nya CUKUP -memalukan- itu. Dengan tidak enak hati Akiang dan teman-teman Saya yang kakak kelasnya ini mencoba membalas lambaiannya dengan wajah menahan tawa melihat Dora yang bertingkah seperti itu sambil menyebut nama mereka masing-masing dengan volum suara cempreng tingkat tinggi. Karena Dora begitu berkonsentrasi melambai-lambai di antara sisi jalan kanan dan kiri yang sempit, Dora menabrak seorang bapak-bapak yang berada di sisi jalan sebelah kanan. BAYANGKAN, sudah jalan di jalur yang salah, nyalahin bapak-bapak itu dengan Akiang dan teman-teman Saya pula, dengan alasan "gara-gara panggil koko, wa jadi tak lihat orang di depan aaaaa..." dengan logat orang Tiociu-nya yang begitu kental dengan wajah memerah dan sambil tersenyum dengan gigi-nya yang jarang-jarang dan bentuk abstraknya itu =)) Akiang dan lainnya tak sanggup menahan tawa dan meninggalkan Dora seketika yang sibuk ngedumel sendirian di belakang sembari melihat ke arah bapak-bapak yang ditabraknya itu. Saya sempat khawatir dengan kondisi bapak itu, apakah dia baik-baik saja ditabrak Dora yang seperti gebrobak itu HAHAHA
Karena, kejadian itu. Setiap Saya bertemu dengan Dora, Saya selalu bilang "Dadaaaa Dora" lalu sengaja menabrakkan diri ke dinding ataupun adik kelas lain yang sedang lewat. Meskipun begitu, Dora adalah adik kelas yang cukup baik dalam hal koordinator di event-event sekolah yang ga berbobot dan pem-bully-an (alias sebagai korban)
Sekian dari Kami :*
Akiang menceritakan hal ini sekitar 30 menit lamanya, karena tak kuasa menahan tawa pada saat upacara dan mata guru yang melirik-lirik di lapangan hingga kelas berlangsung tiada henti, maka cerita cukup sulit untuk diceritakan *masih tertawa*. Oke.
Pada suatu sore hari, Akiang bersama teman-temannya, yang mana teman penulis juga sedang berbicara di perjalanan pulang mengenai makanan yang enak untuk disantap dan lokasi yang asyik untuk ditongkrongi. Di jalan tanpa sengaja, Dora, sang wanita berusia 16 tahun bermuka tua itu melambaikan tangannya tiada henti ke samping kaca pengemudi, (baca: sambil motong jalan dengan kecepatan orang yang sedang tidak ingin memotong jalan) lebih tepatnya kepada Akiang yang sedang menyetir mobilnya. Otomatis Akiang bersama teman-teman Saya terkejut dengan penampakkan Dora yang hadir di sisi kanan mereka dengan sangat ekspresif dan ke-ekspresif-an-nya CUKUP -memalukan- itu. Dengan tidak enak hati Akiang dan teman-teman Saya yang kakak kelasnya ini mencoba membalas lambaiannya dengan wajah menahan tawa melihat Dora yang bertingkah seperti itu sambil menyebut nama mereka masing-masing dengan volum suara cempreng tingkat tinggi. Karena Dora begitu berkonsentrasi melambai-lambai di antara sisi jalan kanan dan kiri yang sempit, Dora menabrak seorang bapak-bapak yang berada di sisi jalan sebelah kanan. BAYANGKAN, sudah jalan di jalur yang salah, nyalahin bapak-bapak itu dengan Akiang dan teman-teman Saya pula, dengan alasan "gara-gara panggil koko, wa jadi tak lihat orang di depan aaaaa..." dengan logat orang Tiociu-nya yang begitu kental dengan wajah memerah dan sambil tersenyum dengan gigi-nya yang jarang-jarang dan bentuk abstraknya itu =)) Akiang dan lainnya tak sanggup menahan tawa dan meninggalkan Dora seketika yang sibuk ngedumel sendirian di belakang sembari melihat ke arah bapak-bapak yang ditabraknya itu. Saya sempat khawatir dengan kondisi bapak itu, apakah dia baik-baik saja ditabrak Dora yang seperti gebrobak itu HAHAHA
Karena, kejadian itu. Setiap Saya bertemu dengan Dora, Saya selalu bilang "Dadaaaa Dora" lalu sengaja menabrakkan diri ke dinding ataupun adik kelas lain yang sedang lewat. Meskipun begitu, Dora adalah adik kelas yang cukup baik dalam hal koordinator di event-event sekolah yang ga berbobot dan pem-bully-an (alias sebagai korban)
Sekian dari Kami :*
0 komentar:
Posting Komentar